Gambar 5 Kelebihan Berat Badan Berpotensi Mengganggu Perkembangan Si Kecil?

Dampak Kelebihan Berat Badan pada Perkembangan Anak

Happy parents, melihat Si Kecil berpipi tembam dengan tubuh yang gemuk mungkin menggemaskan, ya? Namun, hati-hati dengan risiko kelebihan berat badan yang bisa memengaruhi kesehatan Si Kecil. Kelebihan berat badan pada masa anak-anak dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes melitus tipe 2, atau kanker saat ia dewasa kelak.1 Kelebihan berat badan dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu kelebihan berat badan tingkat ringan (overweight) dan kelebihan berat badan tingkat berat (obesitas). Si Kecil dikategorikan overweight apabila nilai berat badan menurut panjang badannya berada di antara +2 (garis merah) dan +3 (garis hitam) standar deviasi pada kurva pertumbuhan. Sementara itu, Si Kecil dikategorikan obesitas apabila nilai berat badan menurut panjang badannya berada lebih dari +3 (garis hitam) standar deviasi pada kurva pertumbuhan.

Secara umum, kelebihan berat badan disebabkan karena jumlah energi yang masuk ke tubuh lebih besar dibandingkan jumlah energi yang dikeluarkan tubuh.5 Dengan kata lain, Si Kecil bisa mengalami kelebihan berat badan apabila ia mengonsumsi makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan tubuhnya. Beberapa kebiasaan makan yang dapat menyebabkan Si Kecil mengalami kelebihan berat badan antara lain tidak seimbangnya konsumsi antar kelompok bahan makanan, sering mengonsumsi fast food, dan kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman kemasan yang tinggi gula tambahan seperti sukrosa. Oleh karena itu, WHO membatasi konsumsi gula tambahan maksimal 10% dari total energi harian atau setara dengan 33-35g (3 sendok makan) gula per hari bagi anak usia 1-5 tahun.  

Pasti Happy Parents bertanya-tanya, “Apa sih sukrosa itu?”.  Sukrosa adalah salah satu jenis gula yang biasanya ditambahkan pada proses pengolahan makanan atau minuman. Sukrosa biasanya terbuat dari gula tebu atau gula bit yang dibentuk menjadi gula pasir, gula bubuk, maupun gula cokelat (brown sugar). Dengan kadar kemanisan yang tinggi, sukrosa dapat membuat Si Kecil ketagihan, loh Moms! Hal ini dapat membuatnya mengonsumsi gula secara berlebihan dan meningkatkan risiko Si Kecil mengalami kelebihan berat badan.

Tapi tenang Moms, ada jenis gula lain yang bisa menjadi pilihan yaitu laktosa. Laktosa merupakan gula alami yang terdapat di ASI dan susu hewan mamalia seperti sapi. Studi menunjukkan, laktosa dapat bertindak sebagai prebiotik yang merupakan makanan bagi bakteri usus sehingga dapat membantu mengoptimalkan kesehatan pencernaan. Selain itu, dengan indeks glikemik dan tingkat kemanisan yang lebih rendah dibandingkan sukrosa, laktosa dapat menjadi sumber energi yang efisien untuk mendukung tumbuh kembang Si Kecil sekaligus menurunkan risiko ia mengalami kelebihan berat badan.

Happy Parents, kelebihan berat badan juga dapat mempengaruhi aktivitas Si Kecil, loh! Studi menunjukkan anak yang kelebihan berat badan cenderung memiliki gaya hidup sedentari dan kurang aktif dibandingkan anak yang memiliki berat badan normal. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan kegiatan yang minim gerakan seperti bermain game di gadget atau menonton televisi. Kurangnya aktivitas fisik dan tingginya penggunaan gadget dapat mengganggu perkembangan Si Kecil di kemudian hari, termasuk meningkatkan risiko terjadinya masalah pada kemampuan motorik, kognitif, bahasa, sosial, dan emosional anak.Oleh karena itu, penting Moms untuk selalu menjaga berat badan Si Kecil agar tumbuh kembangnya optimal dan bahagia!